Instagram-Facebook Pungut Biaya Langganan, Warga Eropa Berang

Instagram-Facebook Pungut Biaya Langganan, Warga Eropa Berang

Jakarta – Meta terpaksa memotong hampir separuh biaya berlangganan bulanan untuk Facebook dan juga Instagram berubah menjadi 5,99 euro (Rp 102 ribu) dari sebelumnya 9,99 euro (Rp 170 ribu).

Ini berubah jadi sebuah langkah yang dimaksud bertujuan untuk mengatasi perasaan khawatir dari regulator privasi lalu antimonopoli.

Pemotongan nilai ini menyusul meningkatnya kritik dari aktivis privasi juga kelompok konsumen mengenai biaya berlangganan tanpa iklan Meta pada Eropa, yang dimaksud menurut para kritikus mengharuskan pengguna membayar biaya demi menjamin privasi mereka.

Meta meluncurkan layanan ini pada November untuk mematuhi Digital Markets Act (DMA), yang mana membatasi kemampuan wadah mempersonalisasi iklan bagi pengguna tanpa persetujuan mereka, sehingga merugikan sumber pendapatan utamanya.

Perusahaan mengatakan, model berlangganan dia pilih supaya menyeimbangkan tuntutan undang-undang privasi Uni Eropa lalu DMA yang mana saling bertentangan.

“Kami ingin mempercepat rute itu selama beberapa waktu akibat kami penting mencapai keadaan stabil. Jadi kami menawarkan penurunan nilai dari 9,99 euro [Rp 170 ribu] berubah menjadi 5,99 euro [Rp 100 ribu] untuk satu akun kemudian 4 euro [Rp 68 ribu] untuk akun tambahan lainnya,” kata pengacara Meta Tim Lamb pada sidang Komisi Eropa, diambil dari Reuters, hari terakhir pekan (22/3/2024).

“Sejauh ini, hitungan yang disebutkan merupakan kisaran terendah yang tersebut harus dibayar oleh pemukim yang mana berakal sehat walafiat untuk mendapatkan layanan dengan kualitas seperti ini. Dan menurut saya ini adalah tawaran yang mana serius. Ketidakpastian peraturan pada waktu ini sedang terjadi juga diperlukan segera diselesaikan,” imbuhnya.

Sementara aktivis privasi Austria Max Schrems mengungkapkan masalahnya bukanlah perihal biaya.

“Kami mengetahui dari semua penelitian bahwa bahkan biaya sebesar 1,99 euro [Rp 34 ribu] atau kurang dari itu akan menyebabkan inovasi persetujuan dari 3-10 persen yang dimaksud benar-benar menginginkan iklan berubah menjadi 99,9% yang masih mengklik,” katanya mengacu pada undang-undang privasi UE.

Schrem menambahkan bahwa dalam Uni Eropa, Peraturan Perlindungan Fakta Umum (GDPR) mensyaratkan bahwa persetujuan harus diberikan secara bebas.

“Pada kenyataannya, ini tidak tentang jumlah agregat uang, ini adalah tentang pendekatan ‘bayar atau tidak’ secara keseluruhan. Tujuan utama dari ‘bayar atau OK’ adalah untuk menimbulkan pengguna mengklik OK, meskipun ini tidak pilihan bebas lalu tulus mereka. Kami tak berpikir bahwa semata-mata dengan mengubah jumlahnya saja, pendekatan ini berubah jadi legal,” ujarnya.

Artikel Selanjutnya Bukti Instagram-Facebook Tak Netral Soal Israel-Palestina

Artikel ini disadur dari Instagram-Facebook Pungut Biaya Langganan, Warga Eropa Berang