Berita  

Kisah Jilbab di dalam RI: Sempat Dilarang Soeharto akibat Alasan Ini adalah

Kisah Jilbab dalam di RI: Sempat Dilarang Soeharto akibat Alasan Hal ini adalah

Jakarta – Pada masa sekarang jilbab lazim digunakan oleh para Muslimah. Namun, fenomena ini sebetulnya berbanding terbalik di dalam masa lalu. Jilbab di dalam masa kemudian bukanlah sesuatu yang sederhana dijumpai, bahkan sempat dilarang pemerintah.

Bagaimana ceritanya?

Berdasarkan pengamatan Jean Gelman Taylor di Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (2008), jilbab, satu di antaranya blus serta celana, tiada ada dalam foto-foto tahun 1880-an. Artinya, pada masa yang disebutkan atau zaman Hindia Belanda, jilbab tidak ada atau belum digunakan sebagai penutup kepala bagi perempuan Muslim. Sebab, pada masa itu merekan hanya saja mengenakan kudung atau kain penutup kepala, itupun tak menutupi seluruh kepala.

Meski begitu, Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pernah memacu perempuan memakai jilbab. Salah satu yang digunakan memakai adalah istinya, Nyai Ahmad Dahlan. Dalam potret yang mana tersebar luas, terlihat Nyai Ahmad Dahlan memakai jilbab yang mana menutupi rambut juga melilit kepala.

Namun, upaya Dahlan tiada memproduksi semua perempuan Muslim memakai jilbab. Ada beberapa tokoh yang mana menggunakannya dalam tahun 1930-an, salah satunya Rangkayo Rasuna Said. Said adalah perempuan terpelajar dari Minangkabau dan juga pejuang kemerdekaan. Sosok yang tersebut namanya diabadikan menjadi nama jalan dalam DKI Jakarta itu memiliki potret foto memakai jilbab. Ali Akbar Navis pada Surat lalu Kenangan Haji (1994) menyampaikan jilbab yang dipakai Rasuna Said digolongkan sebagai jilbab khas Minangkabau yang digunakan disebut mudawarah.

Sepanjang tahun 1930 sampai 1980-an, pemakai jilbab pun tak banyak. Namun, seiring arus keterbukaan mulai deras, pengaplikasian jilbab pun semakin masif. Saat mulai meningkat inilah pemerintah era Orde Baru atau Presiden Soeharto memandang hal ini sebagai ancaman.

Pembeli mengawasi lihat busana muslim yang dimaksud ke jual dalam Pasar Tanah Abang, DKI Jakarta Pusat, Hari Sabtu (2/6/2018). (Mega Iskanti)Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto
Pembeli mengawasi lihat busana muslim yang ke jual di dalam Pasar Tanah Abang, Ibukota Indonesia Pusat, Hari Sabtu (2/6/2018). (Mega Iskanti)

Soeharto meninjau jilbab dari segi politis sebagai efek dari kebangkitan aksi radikalisasi Islam. Alhasil, Soeharto lewat Dirjen Pendidikan dan juga Menengah (Dikdasmen), Prof. Darji Darmodiharjo, SH., mengeluarkan Surat Keputusan 052/C/Kep/D.82 tentang Seragam Sekolah Nasional yang tersebut berujung pada pelarangan jilbab dalam sekolah negeri sekuler. Surat ini diteken pada 17 Maret 1982.

Berbagai kontroversi jelas mengiringi kebijakan ini. Ricklefs pada Sejarah Tanah Air Modern 1200-2008 (2008) mencatatkan pemerintah Orde Baru setiap saat menghalang-halangi umat Islam untuk menerapkan syariah Islam di keberadaan sehari-hari, misalnya melarang para perempuan memakai jilbab untuk menutupi auratnya.

Hingga akhirnya, Soeharto kemudian memperbolehkan kembali penggunaannya di era 1990-an. Berdasar Surat Keputusan nomor 100/C/Kep/D/ tahun 1991, Dirjen Pendidikan kemudian Menengah memperbolehkan lagi siswi-siswi pada sekolah-sekolah negeri sekuler memakai jilbab. Perubahan ini disebabkan lantaran Soeharto ingin mendapat dukungan pengumuman kaum Muslimin di tanah air menjauhi pemilu.

Sejak itulah, jilbab terus dipakai juga berubah jadi sesuatu yang tersebut wajib bagi para perempuan Muslim. Jilbab pada saat ini bermetamorfosis menjadi paket fesyen lengkap para perempuan Muslim pada seluruh Indonesia


Artikel ini disadur dari Kisah Jilbab di RI: Sempat Dilarang Soeharto karena Alasan Ini