Berita  

Ngeri! JPMorgan Ramal Kripto Bakal Ambruk, Berani Baca?

Ngeri! JPMorgan Ramal Kripto Bakal Ambruk, Berani Baca?

Jakarta – Lembaga keuangan jika Amerika Serikat, JPMorgan, memperkirakan mata uang kripto seperti Bitcoin (BTC) berpeluang besar kembali turun harga.

Mengutip Avalanche Foundation, JPMorgan mengkaji penurunan cryptocurrency itu setelahnya baru-baru ini mencapai level tertinggi pada awal bulan ini, namun sejak itu trennya turun.

CoinGecko mencatat harga jual Bitcoin telah terjadi turun 7,2% selama sepekan terakhir. Namun, analis JP Morgan percaya mata uang kripto ini masih overbought, bahkan pasca penurunan tajam pada pekan sebelumnya.

Analisis mereka itu didasarkan pada status perdagangan berjangka, khususnya premi biaya berjangka terhadap biaya spot serta kedudukan ketika ini di dalam lingkungan ekonomi berjangka.

Selain situasi overbought, analis JPMorgan juga mencatat penurunan arus masuk ke ETF spot Bitcoin (dana yang diperdagangkan di bursa).

Arus mengundurkan diri dari bersih telah terjadi berlangsung sejak tanggal 18 Maret, dengan arus meninggalkan satu hari terbesar sebesar US$320 jt (Rp5,05 triliun) terbentuk pada 19 Maret.

Kombinasi keadaan overbought kemudian berkurangnya minat investor, sebagaimana dibuktikan dengan arus pergi dari dari ETF Bitcoin, telah lama menyebabkan analis JP Morgan menyimpulkan bahwa ada kemungkinan penurunan lebih besar lanjut pada biaya Bitcoin.

Karena biaya Bitcoin terus menghadapi tekanan ke bawah, analis dalam JPMorgan yakin bahwa aksi ambil untung kemungkinan akan berlanjut di beberapa minggu mendatang. Ramalan ini muncul pada saat bursa mata uang kripto bersiap menghadapi insiden halving Bitcoin yang tersebut sangat dinanti-nantikan, yang tersebut dijadwalkan berjalan pada bulan April.

Halving Bitcoin, yang digunakan terbentuk kira-kira setiap empat tahun sekali, adalah layanan utama dari desain mata uang kripto. Dalam masa ini, imbalan melawan penambangan kripto akan dipotong setengahnya.

Secara historis, halving Bitcoin sudah dikaitkan dengan peningkatan volatilitas tarif kemudian spekulasi. Analis JPMorgan berpendapat sejumlah penanam modal yang mana mendapat keuntungan dari lonjakan nilai tukar Bitcoin baru-baru ini, serta kemudian cenderung memasarkan kepemilikan mereka itu sebelum halving. Perilaku ambil untung ini dapat berkontribusi pada tekanan penurunan lebih besar lanjut pada tarif mata uang kripto.

Prediksi Harga Bitcoin oleh JP Morgan

Dalam analisis terbaru, JPMorgan memperkirakan bahwa nilai Bitcoin memiliki kemungkinan turun bermetamorfosis menjadi sekitar US$42,000 (Rp662.928.000) pasca kejadian halving yang digunakan akan datang pada bulan April. Ramalan ini didasarkan pada penilaian bank terhadap biaya produksi Bitcoin, yang mana juga dikenal sebagai biaya penambangan.

Analis JP Morgan mengamati bahwa secara historis, biaya produksi Bitcoin berfungsi sebagai batasan harga jual yang dimaksud lebih lanjut rendah. Dengan kata lain, nilai tukar Bitcoin cenderung kekal berada dalam berhadapan dengan biaya yang mana dikeluarkan para penambang untuk memproduksi koin baru.

Hal itu disebabkan oleh fakta bahwa penambang tak mungkin saja mengirimkan kepemilikan Bitcoin mereka dalam bawah biaya produksi, lantaran hal itu akan mengakibatkan kerugian finansial.

Menantikan halving yang dimaksud akan datang, analis JPMorgan memperkirakan bahwa pengurangan imbalan penambangan akan secara efektif menurunkan biaya produksi Bitcoin menjadi sekitar US$42,000. Proyeksi ini menunjukkan bahwa harga jual Bitcoin mungkin turun ke level ini, akibat ini mewakili batas bawah baru berdasarkan biaya penambangan.

Data terkini dari MacroMicro menunjukkan bahwa biaya produksi Bitcoin pada waktu ini sedikit di dalam bawah US$50,000. Hal ini menyiratkan bahwa insiden halving dapat menyebabkan penurunan biaya produksi secara signifikan, yang tersebut pada gilirannya dapat memberikan tekanan pada nilai tukar Bitcoin.

Artikel Selanjutnya Grayscale Pimpin Arus Keluar dari ETF, Kripto Lagi-Lagi Memerah

Artikel ini disadur dari Ngeri! JPMorgan Ramal Kripto Bakal Ambruk, Berani Baca?