Ojol Bukan Karyawan Tak Dapat THR, 5 Negara Ini adalah Larang Sistem Mitra

Ojol Bukan Karyawan Tak Dapat THR, 5 Negara Ini adalah adalah Larang Sistem Mitra

  • 1. Inggris
  • 2. Swiss
  • 3. Belanda
  • 4. Malaya
  • 5. Spanyol

Jakarta – Program transportasi online memberlakukan sistem yang menempatkan para driver taksi online serta ojol sebagai mitra, bukanlah karyawan. Status ojol baru-baru ini bermetamorfosis menjadi obrolan publik, teristimewa mengenai hak berhadapan dengan THR Lebaran.

Sejak dipopulerkan oleh Uber, sistem hubungan kerja kemitraan antara aplikasi mobile serta penyedia jasa berubah menjadi standar di dalam industri jasa berbasis aplikasi. Namun, berbagai negara telah lama melarang sistem ini kemudian mengharuskan penyedia jasa diberlakukan serupa seperti pegawai.

Para perusahaan pemilik perangkat lunak kerap menyatakan para mitra adalah wirausaha yang dimaksud mampu bekerja dengan jam kerja juga penghasilan yang tersebut fleksibel.

Di sisi lain, mitra tak mendapatkan hak pekerja yang berstatus karyawan seperti batasan jam kerja, upah minimum hingga tunjangan kesehatan.

Ternyata, beberapa jumlah negara telah menggalakkan perusahaan penyedia aplikasi mobile untuk mengangkat “mitra” merekan bermetamorfosis menjadi karyawan kemudian memenuhi hak-haknya.

Berikut 5 negara yang dimaksud menjadikan driver online sebagai karyawan:

1. Inggris

Pada 2021, Mahkamah Agung setempat menolak banding Uber menghadapi putusan driver online diperlakukan seperti pegawai lain. Yakni berhak berhadapan dengan cuti dengan tanggungan kemudian pendapatan minimum.

Guardian melaporkan, MA memaparkan kontrak apapun yang dirancang perusahaan perangkat lunak menjauhi kewajiban dasar ke karyawan, tidaklah sah berdasarkan hukum serta tak dapat ditegakkan.

Menurut hakim, driver online Uber punya hak sama dengan pegawai lain. Karena perusahaan disebut mempunyai kendali akan mereka satu di antaranya melalui penetapan tarif juga tak memberikan informasi ke driver mengenai tujuan penumpang.

2. Swiss

Menurut Jurist, hakim di dalam Swiss memutuskan Uber tidak semata-mata perantara. Perusahaan itu juga melakukan penentuan tarif jasa, mengendalikan aktivitas pengemudi, lalu menerbitkan faktur ke pelanggan.

Karena hal tersebut, driver Uber ke negara itu harus diberikan hak sebagai pegawai biasa. Termasuk mendapatkan tunjangan sesuai aturan ketenagakerjaan yang dimaksud ada.

3. Belanda

Tech Crunch melaporkan pengemudi Uber dalam negara yang dimaksud juga punya hak layaknya pegawai. Yakni kesepakatan yang mengikat seperti yang digunakan ada pada serikat pengemudi taksi.

Pengadilan Amsterdam bahkan menyatakan label pengemudi Uber sebagai wirausahawan, cuma “di berhadapan dengan kertas”.

4. Malaysia

Air Asia menyebabkan gebrakan dengan memutuskan memberikan hak driver mereka seperti pegawai biasanya. Para driver akan mendapatkan pendapatan tetap bulanan sebesar mulai dari RM 3.000 atau Mata Uang Rupiah 10 juta.

Selain itu akan mendapatkan keuntungan lain seperti account tabungan Employee Providence Fund (EPF) atau jaminan hari tua dan juga Social Security Organizations (Sosco) atau jaminan kecelakaan kerja. Mereka juga akan mendapatkan asuransi kesehatan, cuti tahunan hingga tunjangan perjalanan.

5. Spanyol

Spanyol memaksa Deliveroo dan juga Uber Eats memberlakukan para mitranya seperti pegawai dengan memberinya upah Keputusan yang dimaksud dilaksanakan setelahnya adanya beberapa keluhan menghadapi status pekerja pengantar makanan di layanan on-demand tersebut.

Artikel Selanjutnya Grab-Gojek Wajib Kasih THR ke Driver Ojol, Hal ini Kata Kemnaker

Artikel ini disadur dari Ojol Bukan Karyawan Tak Dapat THR, 5 Negara Ini Larang Sistem Mitra