Kepala BadanPusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 masih solid, didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta percepatan belanja pemerintah. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan mencapai 5,61 % pada periode tersebut. Konsumsi rumah tangga, yang menjadi pendorong utama pertumbuhan, tumbuh 5,52 % dan memberikan kontribusi 54,38 % terhadap PDB, serta menambah 2,94 persen poin ke pertumbuhan GDP. Peningkatan daya beli dan mobilitas masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri, serta aktivitas meningkat dalam perdagangan, transportasi, restoran, hotel, serta ekonomi digital, mendorong pertumbuhan ini. Investasi, termasuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB), naik 5,96 % dengan kontribusi 28,29 % ke PDB, dan menambah 1,79 persen poin ke pertumbuhan. Peningkatan ini dipicu oleh permintaan lebih tinggi barang modal seperti mesin, peralatan, dan kendaraan; impor modal tumbuh 14,27 %, sementara PMA dan PMDN naik 7,2 % secara bersama‑sama. Belanja modal pemerintah melipatnya 36,7 %, dan konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 %, berkontribusi 1,26 persen poin ke pertumbuhan ekonomi. Amalia menilai percepatan belanja pemerintah pada awal tahun ini sebagai faktor kunci, mengingat kebijakan stimulasi yang diperkuat di bawah presiden Prabowo, sehingga realisasi pengeluaran pemerintah jauh lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor‑sektor utama yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah transportasi dan pergudangan (8,04 %), diikuti perdagangan (6,26 %), industri pengolahan (5,04 %), dan pertanian (4,97 %). Semua data menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak positif di tengah ketidakpastian global dan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia.
Menaker sebut uang saku Magang Nasional 2026 masih dibayar pemerintah
Menaker Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan bahwa uang saku bagi peserta Magang Nasional 2026 akan sepenuhnya dibayar oleh pemerintah, belum…